Rabu, 28 Januari 2015

5 Fakta Menarik Tentang Otak Bayi


Banyak fakta menarik dari bayi yang mungkin belum Anda ketahui bahkan meski sebagai orang tuanya. Inilah 5 fakta menarik tentang otak bayi.

1. Otak bayi lebih aktif ketimbang punya Anda

Bayi terlahir dengan neuron-neuron yang jumlahnya mencapai 100 triliun. Selama setahun pertama, neuron-neuron itu akan terhubung satu dengan yang lainnya hingga mencapai dua kali lipat, menciptakan triliunan sinapsis, yang merupakan dasar anak Anda memahami dunia.

Baru setelah 12 bulan, otak bayi Anda akan membesar menjadi dua kali lipat ukuran semulanya. Dalam waktu yang singkat itu, begitu banyak koneksi saraf yang terbentuk. Masa-masa ini bisa Anda gunakan untuk mengajarkan sebanyak mungkin ilmu. Namun di saat yang sama, biarkan otaknya beristirahat selama tidur dan waktu bermain.
Hanya dengan mengamati dunia di sekitarnya, sudah cukup untuk merangsang otak mudanya.

2. Ingatannya jauh lebih baik dari perkiraan Anda

Bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk ingatan, hippocampus , sudah 40 persen berkembang pada bayi yang baru lahir dan akan berkembang penuh pada usia 18 bulan. Itu mengapa bayi yang baru lahir akan mengenali suara ibunya dan suara lain yang sudah ia sering dengar dari rahim.

Coba trik ini: pada saat 1 bulan, bayi Anda akan ingat kapan saja Anda biasanya memberinya makan dan akan mulai mengharapkan disusui saat itu. Pada usia 4 bulan, bayi Anda akan dapat mengenali wajah Anda lebih cepat ketimbang wajah orang lain.
Memori seperti inilah alasan mengapa kita harus menyiapkan kegiatan-kegiatan rutin setiap harinya, yang kelak akan membantu bayi membentuk rutinitas harian. Mandi dan membaca buku sebelum tidur, misalnya, akan memicu memori bayi Anda di usia lebih besar.

3. Otak bayi memiliki banyak kesamaan dengan otak anjing

Bayi yang baru saja lahir belum mengerti bahasa. Dan pandangannya belum terlalu tajam- dia hanya dapat fokus pada objek yang berjarak 30 cm, seperti wajah Anda ketika Anda menggendongnya.

Jadi salah satu sumber informasi terpercaya yang dapat diproses bayi adalah aroma, salah satu akal utama dari anjing. Satu penelitian menemukan, bayi yang baru lahir yang mencium bau susu ibu mereka memiliki tingkat stress lebih rendah dibanding bayi yang meminum susu lain. Penelitian lain menemukan bahwa bayi yang menangis akan lebih cepat diam jika diberikan pakaian yang beraromakan seperti ibu mereka dibandingkan bayi yang diberikan pakaian tanpa aroma.

Dan secara sehat, bayi yang lahir cukup bulan dengan cara lahir normal, jika ditempatkan pada perut ibunya akan menggeliat ke arah payudara ibunya, mengikuti penciumannya ke arah sumber makanan, seperti anak anjing.

4. Otak bayi memperhatikan segala sesuatu

Disamping memiliki banyak sel otak, otak bayi memiliki jaringan lainnya saat lahir, yang membuatnya sulit menyaring rangsangan. Orang dewasa bisa dengan mudah mengeliminasi bunyi-bunyian tak penting seperti suara televisi atau suara orang batuk di kejauhan. Sayangnya, bayi tak punya kemampuan itu. Inilah yang membuatnya sangat mudah terbangun dari tidur.

Jika Anda ingin bayi berkonsentrasi pada hal yang ada di hadapannya, seperti menyusu atau makan, bawalah ke tempat yang tenang dan berpencahayaan remang-remang. Cara lain untuk mendapatkan perhatian bayi Anda, taruh wajah Anda tidak lebih dari 30 cm darinya dan bicara dalam parentese , yakni pengucapan kalimat dengan nada seperti bernyanyi. Penelitian menunjukkan variasi nada pada parentese mampu menangkap minat bayi dibanding nada bicara biasa.

5. Pelukan membuat otak bayi lebih besar

Bayi sehat yang menerima kasih sayang dan pelukan dari ibu selama waktu stres terbukti memiliki otak yang lebih besar dibanding bayi yang tidak mendapatkan banyak pelukan dari ibunya.

Penelitian dari Washington University di St. Louis mengamati pertumbuhan bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk memori dan modulasi stres, yakni hippocampus, dan menemukan bahwa bentuk otak bayi lebih besar dan lebih berkembang pada bayi yang lebih banyak menerima pelukan dari ibu (penelitian ini tidak menguji pengaruh pelukan ayah).


Artinya, tidak ada pelukan yang berlebihan dengan bayi Anda. Jika dia merasa stres, seperti saat kedinginan, menangis, tak nyaman, dan lain sebagainya, jangan ditahan-tahan, Bunda. Segeralah memeluknya.


sumber: http://allaboutfemale.com/5-fakta-menarik-tentang-otak-bayi/

USIA OPTIMAL PEREMPUAN UNTUK HAMIL


Anak merupakan rizqi yang diberikan oleh Sang Pencipta. Namun jika Anda ingin merencanakan kehamilan, ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan memiliki anak, salah satunya faktor usia. Dengan mengetahui usia yang ideal untuk hamil, kemungkinan besar Anda akan melahirkan bayi yang sehat. Usia yang tepat untuk hamil bergantung pada beberapa faktor seperti kesuburan, psikologi, serta keadaan ekonomi, dan hal tersebut sangatlah relatif bagi setiap orang. Namun bila dilihat dari sudut pandang medis, berikut penjelasan mengenai usia optimal perempuan untuk hamil.


Kapan Usia Optimal Seorang Perempuan Untuk Hamil?

Usia optimal perempuan untuk hamil adalah 20-35 tahun, lazim disebut dengan istilah "lampu hijau". Pada usia 20-35 tahun resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil paling rendah yaitu sekitar 15%. Selain itu apabila dilihat dari perkembangan kematangan, wanita pada kelompok umur ini telah memiliki kematangan reproduksi, emosional maupun aspek sosial. Pada umumnya usia ini merupakan usia yang ideal untuk Anda hamil dan melahirkan untuk menekan resiko gangguan kesehatan baik pada ibu dan juga janin. Selain itu sebuah ahli mengatakan wanita pada usia 24 tahun mengalami puncak kesuburan dan pada usia selanjutnya mengalami penurunan kesuburan akan tetapi masih bisa hamil (baca artikel CARA MENGETAHUI MASA SUBUR).


Bagaimana dengan Kehamilan pada Perempuan di bawah Usia 20 Tahun?

Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun digolongkan ke dalam kehamilan remaja. Usia remaja adalah usia ketika seorang perempuan masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Ketika seorang remaja hamil, maka kebutuhan kalori dan zat gizi lainnya lebih besar dari pada perempuan dewasa. Rata-rata kehamilan remaja mengalami anemia, pertumbuhan janin terhambat, persalinan prematur, preeklamsia (keracunan kehamilan, yang disebabkan ketika ibu hamil mengalami kenaikan tekanan darah mendadak di usia kehamilan di atas 20 minggu, dan disertai dengan kebocoran protein di urin) sehingga bisa menyebabkan kematian ibu dan/atau janin. Pada kehamilan remaja angka kematian bayi lebih tinggi. Selain itu pakar obstetri dan ginekologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr.dr Biran Affandi, Sp.OG yang juga ketua Asia Pasific Council on Contraception (APCOC), mengatakan ibu yang hamil pada usia dibawah 20 tahun memiliki mental dan kondisi emosional belum siap sehingga memiliki risiko tinggi seperti perceraian, kematian pada anak, dan abortus spontan. 


Bagaimana dengan Kehamilan pada Perempuan di atas Usia 35 Tahun?

Kehamilan pada usia antara 35-40 tahun adalah "lampu kuning", dan kehamilan di atas usia 40 tahun digolongkan sebagai "lampu merah". Perempuan di usia tersebut disarankan untuk tidak lagi hamil, mengingat risiko kehamilan yang akan dihadapi mengingkat berkali-kali lipat.

Menurut Prof. Biran, pada usia di atas 35 tahun, bibit kesuburan wanita atau kondisi sel telur akan menurun. Akibatnya, ketika mereka hamil akan peningkatan kejadian janin cacat karena kelainan kromosom, seperti sindrom down, keguguran dan blighted ovum (hamil kosong atau tidak berkembang)sehingga menyebabkan abortus spontan. Menurut American Pregnancy Association, sebelum usia 35 tahun perempuan memiliki risiko keguguran 15 persen. Risiko ini akan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Kemungkinan keguguran bertambah menjadi 35 persen pada rentang usia 35 sampai 40. Setelah itu risiko keguguran akan meningkat menjadi 50 persen saat usia perempuan melebihi 45 tahun.

Selain itu, perempuan pada usia 40 tahun ke atas mulai memiliki masalah kesehatan, seperti hipertensi (darah tinggi), diabetes mellitus (gula darah tinggi), dan sebagainya. Kehamilan pada usia 40 tahun ke atas seringkali disertai komplikasi penyakit-penyakit tersebut, gangguan pertumbuhan janin, persalinan prematur, plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), hingga pendarahan pasca persalinan yang dapat berujung pada kematian ibu.


Namun jangan khawatir jika akhirnya hamil dan melahirkan diatas 35 - 45 tahun. Tidak sedikit kasus ibu hamil di atas usia 40 tahun yang dapat melahirkan anaknya sengan selamat. Hanya saja diperlukan penanganan ekstra dan pengawasan yang seksama untuk persiapan ibu maupun bayinya agar dapat melalui segala prosesnya dengan aman, dengan mengikuti saran dokter akan membantu Anda mendapatkan penanganan terbaik.

Selasa, 27 Januari 2015

CARA MENGETAHUI MASA SUBUR


Masa subur untuk setiap wanita berbeda-beda. Bagi pasangan yang ingin segera mendapatkan momongan, sebenarnya kegiatan bercinta yang dilakukan dan dinikmati dengan santai dan rileks, terutama biasanya Anda rasakan pada awal pernikahan, akan membantu Anda untuk lebih mudah meraih kehamilan. Namun saat kehamilan tersebut tak kunjung datang, maka ada baiknya jika anda mulai mengenali potensi kehamilan dengan menandai masa subur anda dengan tetap memperhatikan usia sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kesuburan (baca artikel USIA OPTIMAL PEREMPUAN UNTUK HAMIL). Berikut cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui masa subur.

1. Cara Mengetahui Masa Subur: Siklus haid

Cara ini hanya dapat dilakukan jika seorang perempuan memiliki siklus haid yang teratur. Siklus haid adalah jarak hari pertama haid di suatu bulan ke bulan berikutnya. Siklus yang dianggap normal adalah antara 28-35 hari. Ketika haid terjadi, indung telur akan melepaskan satu atau beberapa telur, proses ini dikenal dengan istilah ovulasi. Lalu kemudian setiap pertengahan siklus haid telur-telur tersebut akan matang. Itulah masa tersubur anda. Sel telur hanya dapat bertahan di dalam tubuh selama 24 jam. Jadi, kesempatan sperma untuk membuahi sel telur hanya 24 jam. Untungnya, sperma bisa bertahan di dalam tubuh perempuan selama 24-72 jam. Sehingga sperma yang diejakulasikan 3 hari sebelum ovulasi masih mungkin bertahan hidup untuk melakukan pembuahan. Inilah sebabnya mengapa proses ini ditambahkan plus minus 3 hari dari perkiraan masa subur.

Sebagai contoh, jika anda memiliki siklus 30 hari, dengan hari pertama haid terakhir tanggal 1 juni, maka perkiraan haid berikutnya adalah tanggal 1 juli. Masa subur anda adalah 14 hari sebelum tanggal 1 juli, yaitu tanggal 16 juni. Jika anda sedang dalam program hamil, maka anda dan suami dianjurkan untuk bersenggama antara tanggal 13-16 juni. Lebih dianjurkan untuk bersenggama selang sehari, karena produksi sperma pada laki-laki terjadi setiap 48-72 jam sekali sehingga diharapkan kondisi sperma yang akan membuahi sel telur optimal.

2. Cara Mengetahui Masa Subur: Memeriksa Getah Lendir Leher Rahim (Serviks)

Masa subur dapat diketahui dengan mengamati perubahan kekentalan lendir yang keluar dari vagina. Lakukan pengamatan rutin setiap hari. Lendir yang keluar pada masa subur bentuknya terlihat seperti daun pakis, teksturnya lebih jernih, licin dan kental, bersifat kenyal, tidak terputus jika dipegang dan ditarik memanjang, serta lengket seperti agar-agar.

3. Cara Mengetahui Masa Subur: Mengukur Suhu Basal Tubuh

Suhu basal tubuh adalah suhu tubuh yang diukur saat bangun tidur di pagi hari, sebelum turun dari tempat tidur dan beraktivitas. Menjelang dan segera sesudah ovulasi, biasanya suhu basal tubuh meningkat sekitar 0,5oC dari suhu hari-hari sebelumnya. Oleh karena itu, lakukan pengukuran suhu setiap hari selama 3 bulan. Catat data suhu sehingga membentuk kurva. Dengan mengamati pola kenaikan suhu tubuh, maka rentang masa subur anda dapat diketahui. Suhu diatas normal menunjukkan anda sedang dalam masa subur.

4. Cara Mengetahui Masa Subur: Pemeriksaan USG (Ultrasonografi)

Kadang-kadang dokter akan melakukan pemeriksaan usg secara berkala selama 3-5 hari berdasarkan siklus haid anda untuk mengetahui masa subur. Dari pemantauan ini dapat diketahui kapan sel telur mulai terbentuk di dalam indung telur, kapan sel telur menjadi matang, sampai kapan sel telur dikeluarkan. Jika pada pemeriksaan usg didapatkan folikel (cangkang sel telur di indung telur) berukuran di atas 18 mm, maka diperkirakan dalam 24-36 jam kemudian, anda akan mengalami ovulasi (pelepasan telur oleh indung telur). Cara ini cocok bagi anda dengan siklus haid yang tidak teratur.

5. Cara Mengetahui Masa Subur: Pemeriksaan Hormon LH dan Progesteron



Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat tes sederhana (contohnya fertitest) untuk tes kesuburan. Alat tersebut mengukur kadar hormon LH (Luteinizing Hormone atau hormon yang akan melonjak kadarnya di pertengahan siklus haid dan menyebabkan terjadinya ovulasi). Selain itu, pemeriksaan hormon progesteron juga bisa dilakukan untuk memastikan seseorang mengalami ovulasi serta menunjukkan masa subur.


Sumber: http://allaboutfemale.com/cara-mengetahui-masa-subur/

 8 CARA MENGUBAH DAN MENGHINDARI POSISI SUNGSANG


Apakah Posisi Sungsang Itu?

Sungsang merupakan posisi dimana pantat bayi terletak di bagian bawah rahim (mendekati leher rahim) sedangkan kepalanya berada di bagian atas rahim. Ketika bayi berada pada posisi sungsang maka proses persalinan pun akan berjalan alot jika dibandingkan dengan proses persalinan dengan posisi dimana bagian kepala bayi berada di bagian bawah rahim dan menghadap ke arah tulang belakang  sang ibu (anterior) atau pun kepala bayi berada di bagian bawah perut sedangkan bagian belakang dan punggungnya menghadap ke arah tulang belakang ibu (posterior).


Siapa sajakah yang Beresiko Melahirkan Bayi Sungsang?

Lebih dari 50% bayi pernah mengalami posisi sungsang dalam kurun 9 bulan kehamilan, dan lebih dari 90% yang berubah menjadi posisi normal pada umur kehamilan cukup bulan (kehamilan > 37 minggu). Pada umur kehamilan 28 minggu, kemungkinan bayi berada dalam posisi sungsang adalah 25%. Angka tersebut akan turun seiring dengan umur kehamilan mendekati 40 minggu. Hal ini dikarenakan sampai kehamilan 28 minggu, janin biasanya masih bebas bergerak sesukanya. Berat badan janin yang masih lebih ringan dibandingkan rahim akan mempermudah pergerakan janin di dalam kandungan, dan ketika usia kehamilan mencapai 34-36 minggu, bayi seharusnya sudah dalam posisi siap untuk dilahirkan.  Adapun dengan bayi yang dari awalnya sudah berada pada posisi normal, sebagian besar akan tetap demikian sampai akhir masa kehamilan, namun ada juga (meskipun jauh lebih sedikit) yang menjadi letak sungsang. Jika bayi berada pada posisi sungsang hingga proses persalinan akan dimulai, maka banyak dokter spesialis kandungan yang menyarankan untuk menjalani proses persalinan menggunakan pembedahan cesar. 

Sekitar 3-4% bayi berada dalam posisi sungsang ketika lahir. Kelahiran sungsang banyak terjadi pada kehamilan kedua, kehamilan prematur dan kehamilan bayi kembar. Jika janin mempunyai air ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak, posisi sungsang juga beresiko terjadi. Jika rahim calon ibu tidak normal atau terjadi pertumbuhan yang tidak normal, maka akan timbul resiko bayi sungsang pula. Wanita yang memiliki masalah plascenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir) juga kemungkinan besar akan melahirkan bayi sungsang.


Bagaimana Cara Menghindari Posisi Sungsang?

Ada beberapa jenis dan penyebab bayi bisa berada pada posisi sungsang. Namun bagi Anda para ibu yang merasa khawatir karena memiliki kemungkinan untuk mengalami kelahiran sungsang janganlah merasa cemas terlalu berlebihan karena perasaan cemas dan berprasangka negatif dapat mempengaruhi kondisi bayi Anda.  Menurut salah satu dokter spesialis kandungan yaitu dr. Riyani, SpOG beberapa cara dibawah ini dapat Anda lakukan untuk mengubah dan menghindari posisi sungsang baik sebelum ataupun sesudah dinyatakan positif oleh dokter kandungan bahwa posisi bayi Anda sungsang.

1. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Mengikuti Senam Hamil

Senam ibu hamil memang sangat bagus dan dapat membantu menghindari posisi sungsang pada bayi. Biasanya berupa melakukan senam hamil di kolam sehingga akan membuat otot perut santai dan memberikan ruang pada bayi untuk bergerak serta mengubah posisinya. 

2. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Sering Melakukan Posisi Sujud

Bagi Ibu hamil yang muslim, hal ini tentunya sudah menjadi kebiasaan karena saat mejalankan sholat, umat muslim yang taat pasti melakukan hal ini, dan disarankan juga saat sujud ini bisa lebih lama, namun juga dengan tetap menjalankan syarat sholat itu sendiri. Dan bagi Ibu Hamil yang Non Muslim, Anda juga bisa melakukan gerakan ini untuk menghindari posisi sungsang agar terjadi perangsangan pemutaran janin, dimana tingkat keberhasilan metode ini bisa mencapai 92% jika dilakukan dengan baik dan teratur. Posisi ini dapat dilakukan sebanyak 5-6 kali sehari dengan durasi waktu 5-10 menit. Posisi ini tidak akan membahayakan ibu hamil, namun ada beberapa ibu hamil yang merasakan sesak dan tidak nyaman jika dilakukan terlalu lama mengingat bayi yang berada di dalam perut sudah berukuran relatif besar. Oleh karena itu, lakukan posisi ini ketika perut dalam keadaan kosong dan bayi sedang bergerak aktif. Jika ibu sudah merasakan sesak napas, sebaiknya hentikan terlebih dahulu posisi sujud ini, tetapi untuk memaksimalkan hasil dari posisi bersujud ini maka harus dilakukan secara teratur.  Gravitasi mendorong kepala bayi ke bagian bawah rahim, melipat, dan bayi kemudian dapat melakukan jungkir balik ke posisi normal.

3. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Melakukan Teknik Pemijatan Lembut

Pemijatan dilakukan untuk memutar posisi bayi yang sungsang hingga ke posisi bayi yang seharusnya, yaitu dengan cara memijat perut dengan kedua tangan searah jarum jam. Tindakan pemijatan ini sebaiknya dilakukan setelah kehamilan berusia 34 minggu untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan ibu dan bayi. Teknik pemijatan dilakukan dengan lembut menggunakan lotion, selama sepuluh menit atau lebih sampai beberapa kali setiap hari.Namun teknik ini tidak boleh dilakukan oleh semua ibu hamil, terdapat beberapa syarat dan kondisi yang harus dipenuhi dalam melakukan teknik pemijatan ini, seperti:
  • ·tali pusat bayi tidak melilit si bayi
  • ·si bayi tidak mengalami hidrosefalus (pembesaran kepala karena berisi cairan)
  • ·kondisi plascenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir) tidak terjadi
  • ·tidak ada kelainan rahim, seperti kanker rahim pada sang ibu
  • ·ukuran bayi tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan ukuran panggul ibu

4. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Menggunakan Senter


Gunakanlah senter untuk mendapatkan perhatian bayi dalam rahim. Arahkan cahaya senter dari puncak rahim (bagian atas perut), kemudian bergerak kearah jalan lahir di bagian bawah. Sekelebatan cahaya yang bergerak cepat dapat menarik perhatian bayi sehingga kepala bayi dapat mengikuti cahaya tersebut menuju jalan lahir.

5. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Memutar Musik


Banyak yang mengatakan bahwa musik memang sangat bermanfaat bagi janin mulai dari tingkat kecerdasan hingga kesehatan. Selain itu dengan memutar musik juga dapat membuat bayi cenderung berada pada posisi normal. Cara melakukannya hampir sama dengan menggunakan senter, hanya saja musik yang anda putar melalui speaker diletakkan pada daerah dekat dengan jalan lahir (vagina) selama 10 menit, 6-8 kali sehari. Dengan cara ini, kepala bayi akan bergerak mencari suara musik yang menjadi stimulusnya untuk mendekat dan mendengarkan suara musik tersebut dan pada akhirnya bayi akan menempati posisi yang normal.

6. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Meminum Minuman Manis

Meminum minuman manis, seperti segelas jus jeruk yang mengandung banyak kandungan glukosa akan memberi energi tambahan bagi sang bayi untuk membuatnya aktif bergerak. Dengan aktifnya si bayi maka kemungkinan janin bergerak menuju posisi yang normal pun juga akan semakin tinggi.

7. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Tempelkan Benda Dingin

Dengan menempelkan benda dingin pada bagian kepala bayi akan membuat bayi menjauhi daerah dingin tersebut. Maka dari itu letakkanlah benda dingin tersebut dibagian atas perut sehingga kepala bayi akan menjauhi bagian atas perut tersebut dan mengarahkannya ke jalan lahir sang ibu.

8. Cara Mengubah dan Menghindari Posisi Sungsang: Berpikir Positif

Apa yang Anda pikirkan akan berpengaruh pada kondisi janin. Jangan merasa cemas dan takut secara berlebihan. Berusahalah untuk rilex dengan tetap berusaha dan berpikir juga yakin bahwa hal hal negatif dapat Anda hindari. Dengan selalu berpikir positif, bayi akan menerima sinyal positif dari Anda sehingga membuat bayi berputar ke posisi yang benar meskipun posisi bayi Anda sungsang.
Salah satu teknik berpikir positif adalah dengan melakukan relaksasi hypnobirthing. Relaksasi hypnobirthing dilakukan dengan cara mengajak bicara bayi Anda, minta tolong padanya lalu visualisasikan bayi bergerak turun dengan kepala yang sangat dalam masuk ke dalam panggul Anda minimal 2 kali sehari.


Selain cara diatas, Anda harus rutin melakukan kontrol ke dokter spesialis kandungan yang menangani Anda untuk mengetahui perkembangan dari si bayi sehingga Anda dapat melakukan tindakan pencegahan dan mengatasi posisi bayi sungsang ini, termasuk juga dengan melakukan USG untuk pendeteksian posisi bayi.



Sumber: http://allaboutfemale.com/8-cara-mengubah-dan-menghindari-posisi-sungsang/